Mengapa Mayat Pendaki Dibiarkan di Gunung Everest? Fakta, Risiko, dan Biaya Evakuasi yang Mengejutkan
Pendakian Everest bukan perjalanan biasa. Dibutuhkan waktu berbulan-bulan hingga bertahun-tahun untuk mempersiapkan fisik, mental, dan logistik. Meski begitu, tidak ada jaminan seseorang bisa mencapai puncak dengan selamat. Hingga akhir 2024, tercatat lebih dari 335 pendaki meninggal dunia saat mencoba mencapai atau turun dari puncak Everest. Angka kematian diperkirakan sekitar 1% dari total pendaki, angka yang terlihat kecil, tetapi sangat signifikan mengingat kondisi ekstrem yang dihadapi.
Penyakit ketinggian akut (Acute Mountain Sickness)
Kekurangan oksigen, Cuaca ekstrem, Longsor salju
Terjatuh dari ketinggian, Gejala penyakit ketinggian sendiri bisa berupa:
Pusing, Mual dan muntah, Sakit kepala berat, Kehilangan kesadaran. Kondisi ini bisa memburuk dengan cepat dan berujung fatal jika tidak segera ditangani.
Suhu di Everest bisa mencapai di bawah -30°C. Tubuh manusia yang meninggal akan membeku dan menjadi sangat berat serta sulit dipindahkan.
2. đ§ Risiko Tinggi untuk Tim Evakuasi
Mengambil jenazah di ketinggian ekstrem sangat berbahaya. Bahkan, dalam beberapa kasus, upaya evakuasi justru menelan korban jiwa tambahan.
3. đ¸ Biaya yang Sangat Mahal
Biaya evakuasi jenazah dari Everest bisa mencapai sekitar US$70.000 (lebih dari Rp1 miliar). Ini termasuk logistik, tenaga profesional, dan risiko tinggi yang harus ditanggung.
4. đ§ Lokasi yang Sulit Dijangkau
Banyak jenazah berada di jalur sempit, curam, atau area yang rawan longsor. Hal ini membuat proses evakuasi hampir mustahil dilakukan dengan aman.
Karena berbagai faktor tersebut, Everest sering disebut sebagai “kuburan terbuka”. Bahkan, beberapa jenazah menjadi penanda jalur bagi pendaki lain.
Menurut pendaki berpengalaman seperti Alan Arnette, melihat jenazah di Everest adalah hal yang umum, meskipun tetap menjadi pengalaman yang mengerikan.
đ§ Realita yang Harus Diterima Pendaki
Dalam dunia pendakian ekstrem, ada prinsip yang sulit diterima: jika seseorang tidak bisa diselamatkan tanpa membahayakan nyawa orang lain, maka mereka harus ditinggalkan. Keputusan ini bukan karena tidak peduli, tetapi demi keselamatan tim yang masih hidup.
Karena berbagai faktor tersebut, Everest sering disebut sebagai “kuburan terbuka”. Bahkan, beberapa jenazah menjadi penanda jalur bagi pendaki lain.
Menurut pendaki berpengalaman seperti Alan Arnette, melihat jenazah di Everest adalah hal yang umum, meskipun tetap menjadi pengalaman yang mengerikan.
Dalam dunia pendakian ekstrem, ada prinsip yang sulit diterima: jika seseorang tidak bisa diselamatkan tanpa membahayakan nyawa orang lain, maka mereka harus ditinggalkan. Keputusan ini bukan karena tidak peduli, tetapi demi keselamatan tim yang masih hidup.
Gunung Everest bukan hanya simbol keindahan dan pencapaian tertinggi, tetapi juga tempat dengan risiko kematian nyata. Banyaknya jenazah yang dibiarkan di gunung adalah hasil dari kombinasi kondisi ekstrem, biaya tinggi, dan bahaya besar dalam proses evakuasi.
Pendakian Everest membutuhkan lebih dari sekadar keberanian—dibutuhkan kesiapan penuh untuk menghadapi kemungkinan terburuk.
by Maria369





No comments:
Post a Comment